Memang Lapar atau Stres?

Memang tak semua orang “lari” pada makanan ketika mengalami stres.  Ada juga yang nafsu makannya justru hilang dalam kondisi tertekan secara emosional. Tetapi, kebanyakan orang mendapatkan rasa nyaman dengan mengasup makanan.

“Ada banyak cara untuk menghadapi emosi negatif yang sedang dirasakan, salah satunya dengan makan yang memang menimbulkan perasaan lebih baik,” kata Martin Binks, PhD, direktur penelitian kesehatan perilaku dari Duke University Medical Center.

Bila kita dibesarkan dalam lingkungan yang menggunakan makanan untuk mengatas emosi, maka kita juga akan punya kebiasaan makan saat stres. “Tapi jika kita sudah tahu teknik manajemen stres yang sehat maka kita bisa memilih cara lain,” kata Binks.

Makan saat stres juga bisa terjadi karena dipicu oleh hormon stres yang menyebabkan rasa lapar. “Ada penelitian yang menunjukkan adanya sistem hormon yang kompleks pada rasa lapar dan rasa kenyang, yang juga dipengaruhi oleh stres dan tidur,” katanya.

Kombinasi dari mekanisme biologi tersebut akan menyebabkan mengapa seseorang memilih makanan untuk mengurangi stres dan yang lain mencari solusi lain.

Makan saat stres, menurut Anne Wolf, RD, adalah respon emosional yang lambat laun menjadi bersifat otomatis. “Kalau setiap ada kejadian kita meresponnya dengan cara tersebut, lama-lama itu jadi kebiasaan. Untuk mengubahnya kita harus belajar kebiasaan baru,” kata ahli gizi dan peneliti dari University of Virginia School of Medicine itu.

Karena itu, Wolf menyarankan agar setiap kali perasaan stres menyebabkan Anda mencari semangkuk mi, lawan perasaan itu. “Pertama, rasakan sensasi stres. Duduk dengan tenang dan tarik napas. Rasakan dan lihat apa yang terjadi,” katanya.

Kita harus menyadari apakah yang kita rasakan ini lapar atau hanya respon stres. “Dengan cara tadi biasanya stres yang dirasakan berkurang dan kita tidak lapar lagi. Cobalah pola ini dan ulangi sampai akhirnya jadi kebiasaan baru,” paparnya.

Akupuntur dan Pijat Refleksi Atasi PMS

Sekitar 40 persen perempuan mengalami sindrom pra menstruasi dan sekitar 2 persen di antaranya mengalami keluhan yang hebat setiap bulannya. Akupuntur dan pijat refleksi diketahui mampu mengurangi keluhannya.

Penyebab utama sindrom pra menstruasi (premenstrual syndrome/PMS) memang belum jelas, tetapi para ahli menyebutkan hal itu terkait dengan perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron menjelang siklus menstruasi.

Dampak dari PMS bisa signifikan karena dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi, bahkan memicu keinginan bunuh diri. Gejala PMS sendiri sangat bervarisi, diperkirakan ada 150 gejala PMS yang dirasakan para wanita.

Gejala yang paling sering antara lain, mudah tersinggung, marah, kecemasan, insomnia, sulit berkonsentrasi, nafsu makan bertambah, sampai depresi. Stres dan kehidupan modern yang sibuk bisa memperberat gejala PMS.

Konsumsi air putih yang cukup, menghindari stres, mengurangi kafein, gula, garam, serta alkohol, diketahui bisa mengurangi gejala PMS. Namun jika cara tersebut kurang berhasil, mungkin Anda bisa mencoba cara “alternatif” seperti akupuntur dan pijat refleksi.

Refleksiologi

Teknik refeksiologi didasarkan pada prinsip bahwa ada kaitan antara berbagai titik di kaki, tangan, wajah, dan telinga, dengan bagian lain di seluruh tubuh. Karena itu, terapis pijat refleksi akan melakukan penekanan dan pemijatan di area tertentu yang bertujuan menstimulasi saraf parasimpatik sehingga tubuh menyembuhkan dirinya sendiri.

Misalnya saja, area pemijatan di sekitar kaki dan tumit dipercaya akan memengaruhi endokrin dan sistem reproduksi sehingga gejala-gejala PMS berkurang.

Akupuntur

Teknik ini sudah dipakai di Cina sejak ribuan tahun lalu. Jarum-jarum yang ditusukkan ke titik tertentu dalam tubuh ditujukan untuk mengembalikan keseimbangan energi, khususnya di area liver untuk mengurangi keluhan akibat PMS.

Anak Montok Belum Tentu Sehat

Banyak orangtua yang menginginkan anaknya gemuk karena terlihat sehat dan menggemaskan. Padahal pemikiran tersebut harus dikaji ulang karena kegemukan bukan tolak ukur kesehatan, justru kondisi itu mengundang banyak penyakit.

Seorang anak dianggap sehat jika berat badannya tidak melebihi kurva pertumbuhan sesuai usianya. “Anak yang sejak kecil sudah gemuk biasanya akan tumbuh menjadi dewasa yang gemuk pula,” kata Prof. Jose Rizal Batubara, Sp.A (K), ahli endokrin dari FKUI/RSCM Jakarta.

Ia menjelaskan, obesitas adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung dan diabetes. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa status nutrisi yang buruk, termasuk kegemukan, dapat memengaruhi fungsi otak dan perkembangan perilaku.

“Komplikasi dari kegemukan sangat banyak, termasuk juga membuat anak merasa tidak percaya diri sehingga mudah depresi,” katanya.

Fenomena anak obesitas dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi keprihatinan para pakar kesehatan. Di Indonesia angkanya terus meningkat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan tahun 2010, ada 14 persen anak obesitas. Di kota Jakarta angkanya bahkan lebih tinggi lagi, yakni mencapai 19 persen.

“Kalau di negara maju, pemerintahnya sudah membuatkan program pengendalian berat badan anak. Misalnya di Singapura, anak-anak sekolah diwajibkan berolahraga dulu sebelum masuk kelas,” katanya.

Obesitas terjadi karena berbagai faktor, seperti genetik dan lingkungan. “Genetik memang ada pengaruh tapi jika pola makannya tidak berlebih dan anak banyak bergerak ia tak akan kegemukan,” katanya.

Dari faktor pola makan, pakar gizi Dr. Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, mengatakan agar anak diajari untuk membatasi asupan kalorinya. “Kelebihan energi pada anak akan ditimbun menjadi lemak,” katanya.

Kebiasaan mengasup makanan berkalori tinggi, termasuk makanan yang mengandung gula tambahan, menurut Fiastuti bisa membuat anak kecanduan.

“Karena dibiasakan mengasup makanan berkalori tinggi anak akan sulit mengubah kebiasaan makannya, padahal makin besar biasanya aktivitas fisiknya cenderung menurun,” katanya.

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Ibu & Anak

Cerdas Gunakan Antibiotika

Tidak jarang, antibiotika dianggap sebagai obat dewa yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Padahal, antibiotika tidak bisa dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan virus. Sembarangan mengonsumsi antibiotika hanya membuat tubuh sembutuhkan obat yang lebih kuat. Selain lebih mahal, jika punya efek samping yang juga lebih berat.

Antibiotika adalah obat yang digunakan untuk membunuh bakteri. “Karena itu, antibiotik diberikan ketika ada tanda-.anda infeksi bakteri,” kata Dr. Tonny Loho, Sp.PK(K) dari Divisi Infeksi Departemen Patologi Klinik FKUI-RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Ada banyak jenis antibiotika dan masing-masing bekerja dengan cara berbeda pada berbagai jenis bakteri. Dokter akan memutuskan yang paling balk untuk infeksi yang diderita pasiennya.

Meskipun antibiotika adalah obat yang manjur, obat ini tidak mengobati segala jenis penyakit. Antibiotika tidak manjur melawan penyakit yang disebabkan oleh virus. Jadi obat yang satu ini tidak bisa mengobati flu, sebagian besar penyakit bronkitis akut, hidung meter, dan sebagian besar sakit tenggorokan yang bukan disebabkan bakteri Streptococcus.

Ada bahaya bila kita minum antibiotika ketika tidak membutuhkannya. Antibiotika bakal tidak bisa bekerja secara efektif saat kita benar-benar memerlukannya. Setiap kali kita minum antibiotika, di tubuh bersarang bakteri-bakteri yang tidak bisa dibunuh si antibiotika.

Bakteri ini kemudian bermutasi dan semakin sulit dibasmi. Antibiotika yang biasa digunakan untuk membunuhnya tak lagi mempan. Bakteri tersebut menjadi bakteri yang resisten terhadap antibiotika.

Infeksi Sulit

Bakteri yang makin bandel ini bisa menyebabkan infeksi yang lebih serius dan lebih lama. Untuk mengobatinya, butuh antibiotika yang lebih kuat dan mahal. Antibiotika lebih kuat ini bisa menimbulkan efek samping dibandingkan dengan antibiotika sebelumnya.

Celakanya, bakteri resisten antibiotika ini bisa menyebar ke anggota keluarga, anak-anak, rekan kerja dan masyarakat sekitarnya. Masyarakat jadi punya risiko terkena infeksi yang semakin sulit dan mahal disembuhkan. Antibiotika yang biasa diresepkan dokter tidak lagi mempan.

Di samping itu, minum antibiotika ketika tak dibutuhkan malah menimbulkan efek samping pusing, diare, dan sakit perut. Antibiotika menyebabkan iritasi dan pembengkakan usus besar.

Ini terjadi karena antibiotika membunuh bakteri normal di usus dan menyebabkan bakteri C. difficileberkembang biak. Alhasil, terjadi diare, demam, dan kram perut. Wanita pun bisa terkena infeksi jamur vagina karena minum antibiotika sebab bakteri baik di vagina ikut terbunuh antibiotika.

“Selain dikonsumsi seperlunya sesuai dengan resep dokter, pasien juga sebaiknya berhati-hati mengonsumsi ketika sedang mengusahakan kehamilan. Katakan kepada dokter sedang dalam program punya anak, sehingga dokter pun akan lebih berhati-hati meresepkan antibiotika. Banyak yang baru tahu dirinya hamil setelah terlambat haid dua minggu. Lebih balk jika seorang talon ibu memberi tahu dokter sebelum itu,” kata Dr. Tonny

Pasien juga boleh berinisiatif mengatakan kepada dokter apakah antibiotika pengobatan yang terbaik untuk penyakit yang diderita. Pasien boleh menyatakan kepada dokter tidak ingin mendapatkan antibiotika dan hanya mengonsumsinya ketika dibutuhkan.

Satu hal lain yang harus dipatuhi adalah tidak boleh minum antibiotika yang diresepkan untuk penyakit lain atau obat milik orang lain. Hal ini hanya menyebabkan penundaan pengobatan yang benar dan penderitanya jadi lebih sakit.

“Sebenarnya mudah saja cara agar kita tidak sedikit-sedikit minum antibiotika. Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan pakai sabun adalah cara yang sangat mudah, tetapi efektif,” ujar Dr. Tonny.

Cuci tangan pakai sabun dan dikeringkan dengan lap bersih ini harus dilakukan ketika usai bepergian ke tempat ramai, setelah buang air kecil dan besar, usai memegang hewan, serta sebelum mengolah makanan dan sebelum makan.

Vaksinasi adalah langkah selanjutnya supaya tubuh tidak mudah tertular penyakit yang tak bisa diobati antibiotika, misalnya vaksin flu. Vaksin ini sudah tersedia di rumah sakit tertentu.

Pengguna Antidepresan Bakal Sulit Memiliki Anak

Tidak ada obat yang tak memiliki efek samping. Demikian pula halnya obat antidepresan. Obat yang biasanya digunakan untuk memberikan rasa senang dan bahagia ini dicurigai membuat pasien pria mengalami gangguan kesuburan.

Obat antidepresan, terutama golongan SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors) adalah obat yang paling sering diresepkan di Amerika Serikat. Bukan cuma oleh psikiatri, tapi juga dokter internis, ahli saraf, dokter keluarga, ahli jantung, hingga ahli pencernaan untuk mengatasi pasien yang depresi dan cemas.

Obat tersebut diketahui memiliki sederet efek samping seperti mual, diare, sembelit, kenaikan berat badan, insomnia, hingga menurunnya gairah seksual dan gangguan ereksi.

Dalam studi teranyar terungkap antidepresan golongan SSRIs juga berpengaruh terhadap kesuburan pria. Obat ini diketahui akan mengurangi jumlah sperma sampai setengahnya, termasuk juga menyebabkan bentuk dan gerakan sperma jadi abnormal.

Efek samping itu bisa muncul setelah satu bulan pasien mengonsumsi SSRIs dan bertambah parah dalam kurun waktu tiga bulan pemakaian.

Secara spesifik para ahli menemukan SSRIs akan menyebabkan bentuk sperma menjadi tidak normal dan tidak bisa berenang dengan baik. Ditambah dengan jumlah sperma yang berkurang, kombinasi itu akan menyebabkan pria sulit membuahi.

Di luar faktor obat-obatan, para ahli sejak lama sudah menyebutkan bahwa stres dan depresi sendiri bisa menyebabkan level hormon testosteron pria berkurang yang berdampak pada menurunnya jumlah sperma.

Kabar baiknya, karena efek negatif dari antidepresan itu terutama pada sperma, maka kondisi itu bisa diubah jika pengobatannya dihentikan.

Seperti diketahui dibutukan waktu 64 hari agar sperma dihasilkan sempurna sehingga pasien bisa mendapatkan jumlah sperma yang normal kembali dalam waktu kurang dari 3 bulan.

Meski begitu bagi pasangan yang sedang dalam program kehamilan sebaiknya berkonsultasi pada dokter sebelum menghentikan obatnya.

 

Ekstrak Herbal untuk Atasi Batuk Anak

Kendati saat ini di pasaran tersedia berbagai jenis obat batuk farmasi, namun cara-cara yang alami selalu lebih diminati, terlebih untuk mengatasi keluhan penyakit anak. Menyadari hal tersebut PT.Deltomed Laboratories meluncurkan Obat Batuk Herbal Junior yang terbuat dari bahan-bahan herbal.

Meski obat herbal lebih mengandalkan pada sifat warisan turun-temurun, tetapi menurut Mulyo Rahardjo, managing director PT.Deltomed, OB Herbal Junior ini sudah melewati pembuktian ilmiah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, serta menggunakan teknologi ekstraksi yang modern.

“OB Herbal tergolong dalam obat terstandar dan sudah terbukti aman dikonsumsi untuk anak,” katanya dalam peluncuran OB Herbal Junior di Jakarta (9/2/12).

Dijelaskan oleh dr.Abrijanto, business development manager PT.Deltomed, OB Herbal junior ini terdiri dari bahan-bahan herbal yang memang sudah sejak lama dipakai untuk mengatasi batuk seperti jahe, jeruk nipis, kencur, daun thymi, mint, akar manis, dan biji pala. Untuk mengurangi rasa pahit ditambahkan pula madu dalam kandungan produk tersebut.

“Kombinasi ekstrak bahan herbal itu memberikan rasa hangat dan melegakan tenggorokan. Selain itu bahan-bahan herbal itu umumnya memiliki sifat anti radang sehingga bisa mengatasi batuk pada sumbernya, yakni peradangan di saluran napas,” kata Abri.

Dia menambahkan, batuk sebenarnya bukan penyakit, tetapi gejala. “Peradangan lama kelamaan akan menyebabkan imunitas tubuh menurun sehingga lebih mudah terkena infeksi,” imbuhnya.

Kombinasi bahan-bahan herbal yang tepat, menurut Abdul Mun’im, juga memiliki mekanisme yang saling melengkapi. “Ada herbal yang berfungsi sebagai pengencer dahak, menekan refleks batuk, sampai imunomodulator untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” kata ahli herbal dari Program Pascasarjana Herbal Departemen Farmasi, FMIPA Universitas Indonesia, dalam kesempatan yang sama.

Meski begitu, tidak semua gejala batuk bisa disembuhkan dengan obat. Batuk yang disebabkan oleh tumor atau keganasan lain, contohnya. Selain itu batuk yang disebabkan oleh alergi biasanya bisa diatasi dengan menghindari pencetus alerginya.

Hewan Peliharaan Jauhkan Asma dari Bayi

Tak perlu takut berlebihan pada hewan peliharaan saat hamil. Menurut studi terbaru memelihara “si pus” atau “si dogi” justru bisa mengurangi risiko bayi yang dilahirkan terkena asma atau alergi.

Para peneliti dari Henry Ford Hospital di Detroit, Amerika Serikat, menemukan bahwa bayi yang sudah terpapar hewan peliharaan justru memiliki kadar antibodi imunoglobulin E (IgE) lebih rendah, terutama saat mereka lahir dan di usia dua tahun. IgE adalah antibodi yang memicu reaksi alergi dan asma.

Kadar antibodi pada bayi yang terpapar hewan peliharaan sekitar 28 persen lebih rendah dibandingkan bayi yang rumahnya bebas dari hewan peliharaan.

Meski begitu kadar IgE paling rendah ditemukan pada bayi yang berasal dari Eropa, Asia, dan Timur Tengah dibandingkan dengan bayi keturunan Afrika-Amerika. Selain itu kadarnya juga lebih rendah pada bayi yang dilahirkan spontan dibanding bayi yang dilahir melalui operasi caesar.

“Paparan yang luas dan bervariasi pada mikroba di rumah dan juga selama proses persalinan ikut membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi,” kata Dr.Christine Cole Johnson, peneliti.

Ia menambahkan varian genetik mungkin menjelaskan mengapa bayi baru lahir di Afrika biasanya memiliki level IgE yang lebih tinggi.

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Ibu & Anak

Terlalu Bersih, Anak Justru Rentan Alergi

 Lingkungan yang bersih memang bisa mencegah penyebaran penyakit dan infeksi. Namun, sesekali anak perlu dibiarkan “berkotor-kotor” karena lingkungan yang terlalu bersih justru menyebabkan anak rentan alergi.

“Alergi atau asma memang berbanding terbalik dengan infeksi. Makin bersih lingkungan, makin rentan terkena alergi. Dalam dunia kedokteran ini disebut dengan hygine hypothesis,” jelas dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K), ahli alergi dan imunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam media edukasi mengenai alergi di Jakarta (21/2/2012).

Dia mencontohkan, kasus asma di negara Inggris yang mencapai 40 persen dari populasi, sedangkan di Indonesia tidak sampai 5 persen. “Tapi kasus infeksi di negara kita tinggi,” ujarnya.

Alergi juga bisa timbul pada anak yang sering mendapatkan obat antibiotik. “Antibiotik akan mematikan kuman-kuman di dalam tubuh sehingga tidak ada yang menekan reaksi alergi,” katanya.

Menurut hipotesis higienis, akibat lingkungan yang terlalu bersih, termasuk penggunaan sabun antibakteri, akan menyebabkan tubuh tidak lagi perlu melawan bakteri dan menciptakan lebih banyak protein pelawan alergen. Seperti diketahui, sistem imun kita bukan cuma didesain untuk melawan infeksi (bakteri, jamur, virus), tetapi juga zat asing seperti alergen.

Untuk mencegah alergi, Zakiudin menyarankan agar anak diperkenalkan kepada kuman. “Tetapi bukan kuman yang menyebabkan sakit. Misalnya dengan vaksinasi atau pemberian prebiotik,” katanya.

Meski berbakat alergi, namun alergi juga bisa dicegah dengan cara menghindari alergen atau pencetus alergi. Misalnya menghindari paparan tungau debu, makanan yang menimbulkan alergi, tidak memberikan susu sapi terlalu dini pada bayi, serta menghindari paparan asap rokok.

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Ibu & Anak

Jumlah Anak Alergi Terus Meningkat

 Dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi peningkatan kasus alergi, khususnya pada anak-anak. Jenis alergi yang paling sering diderita adalah dermatitis atopik dan asma.

Di Amerika Serikat, menurut data Center for Disease Control and Prevention, diperkirakan 8,2 persen dari populasi menderita asma. Itu berarti saat ini terdapat 25 juta orang.

Sementara itu di Jakarta, menurut data Divisi Alergi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 2006 terdapat 4 persen anak yang menderita alergi susu sapi dan sekitar 45 persen di antaranya menderita dermatitits atopik (eksim).

“Peningkatan kasus alergi ini perlu menjadi perhatian karena alergi adalah penyakit yang berbiaya tinggi. Misalnya saja asma dan rinitis alergi yang pengobatannya harus seumur hidup. Belum lagi hari sekolah yang hilang karena anak tidak bisa bersekolah jika alerginya kambuh,” kata dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K), dalam acara media edukasi mengenai alergi yang diadakan oleh Departemen Gizi FKUI di Jakarta (21/2/2012).

Alergi pada anak seringkali terkait dengan faktor genetik atau adanya riwayat alergi dalam keluarga. Pada anak berusia kurang dari tiga tahun umumnya adalah alergi yang dicetuskan dari makanan, sementara pada anak yang lebih besar biasanya disebabkan karena faktor lingkungan.

“Pemberian susu sapi pada bayi sering menyebabkan gejala alergi pada anak. Biasanya gejala yang muncul adalah bercak merah di kulit, gatal, dan bersisik. Dan ini sering dikira anak ketumpahan ASI,” kata Zakiudin, ahli alergi dan imunologi dari FKUI ini.

Ditambahkan oleh dr. Luciana B.Sutanto, Sp.GK, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang terlalu dini juga menyebabkan anak alergi. “Banyak orangtua yang sudah memberikan MPASI saat anak baru berusia 4 bulan. Padahal pencernaan anak belum matang,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Pemberian MPASI yang berisi protein hewani menurut Luciana juga kerap memunculkan alergi. “Ada juga ibu yang memberikan kaldu daging untuk anaknya agar tidak alergi. Padahal di dalam air kaldu itu hanya mengandung sedikit protein dan vitamin sehingga kecukupan gizi anak malah tidak terpenuhi,” katanya.

Ia menyarankan agar anak berusia kurang dari setahun sebaiknya tidak diberikan makanan yang bisa memicu alergi, seperti kacang-kacangan, telur, susu sapi, dan makanan laut, khususnya pada anak yang berbakat alergi.

Bila anak berbakat alergi, pengenalan bahan makanan untuk MPASI sebaiknya satu jenis setiap minggu sehingga jika ternyata timbul reaksi alergi lebih mudah untuk dilacak.

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Ibu & Anak

Inilah 10 Efek Positif Bermain “Game”

Belakangan ini, banyak riset yang menunjukkan adanya dampak negatif  bermaingame khususnya pada anak-anak, baik itu di komputer, konsol atau pun berbagai perangkatgadget. Hal ini sudah tentu membuat banyak orang tua menjadi khawatir dan was-was.

Tapi anda sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir. Pasalnya, dengan pengaturan waktu bermain serta pengawasan yang tepat, ada sejumlah keuntungan yang justru akan didapat anak Anda dari bermain video game.  Berikut adalah 10 manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas bermain video games :

1. Aktivitas Fisik

Ada banyak video game di pasaran yang dalam pengoperasiannya memerlukan beberapa jenis aktivitas fisik. Apakah itu menari atau bermain gitar. Di sinilah dibutuhkan kecerdikan orang tua untuk memiliki jenis game untuk anak-anak mereka, yang dapat memaksa mereka (anak-anak) untuk bergerak ketimbang harus duduk di sofa sepanjang hari.

2. Kebugaran dan Gizi

Banyak game yang menggabungkan unsur kebugaran, gizi dan hidup sehat sebagai tujuan utama permainan. Bahkan tidak sedikit  game yang menyajikan tujuan utama permainan mereka pada kebugaran fisik, yang bertujuan mendorong para pemain untuk menurunkan berat badan untuk mempertahankan gaya hidup sehat.

3. Koordinasi mata dan tangan

Bermain video game sebenarnya dapat meningkatkan ketangkasan anak Anda, yang sangat berguna untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sebenarnya banyak jenis olahraga yang dapat dilakukan untuk meningkatkan koordinasi antara tangan dan mata, tetapi hal itu kurang menarik keinginan anak-anak untuk mencobanya.

4. Keterampilan sosial

Kurangnya keterampilan sosial dan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain secara teratur dapat merusak perkembangan anak dan bahkan menyebabkan depresi. Anak-anak yang pemalu dan kurang percaya diri ketika bersosialisasi dengan teman mereka mungkin akan lebih mudah membuka diri saat bermain video game. Dengan bermain game online, anak-anak dapat berinteraksi dengan banyak orang, bahkan orang yang tidak mereka kenal.

5. Peningkatan kemampuan belajar

Kompleksitas games memberikan anak Anda kesempatan untuk meningkatkan keterampilan kognitif seperti memecahkan masalah dan membuat keputusan. Video game telah berkembang ke titik di mana penggunanya harus mengambil kendali dan berpikir sendiri. Bahkan banyak permainan yang mendorong anak untuk menjadi sabar dan kreativ dalam memecahkan sebuah teka-teki sebelum mereka dapat maju ke tahap berikutnya.

6. Sportivitas dan adil

Sportivitas dan adil (fair play) adalah nilai-nilai yang umum dikembangkan dalam olahraga dan organisasi. Game secara tidak langsung menawarkan Anak Anda nilai-nilai ini, terutama saat bersaing satu sama lain.

7. Mengurangi stres

Stres tidak hanya dialami oleh orang tua tetapi juga anak-anak. Beberapa orang tua terkadang menaruh harapan dan tuntutan yang sebenarnya anak-anak mereka tidak suka, misalnya terkait hobi dan belajar. Bermain game dapat menjadi jalan keluar bagi anak Anda lepas dari tekanan untuk mengurangi tingkat stres.

8. Kerja tim

Kerjasama dan kebutuhan untuk membangun team work kuat pengaruhnya saat anak bermain video game. Beberapa game online misalnya, yang membutuhkan sebuah kerjasama tim untuk mencapai kemenangan.

9. Mengatasi rasa sakit

Bermain video game bisa menjadi sarana untuk mengatasi rasa sakit fisik atau emosional,  misalnya, pada orang yang sedang menderita suatu penyakit di mana hanya dapat melakukan aktivitas di kamar tidur.

10. Membuat orang senang

Salah satu efek terbesar dari bermain game adalah membuat orang bahagia. Namun, sangat penting untuk membatasi waktu bermain game, karena ada kemungkinan bahwa alat ini membuat Anda menjadi kecanduan. Biarkan anak-anak Anda untuk bermain game sesering mungkin, tapi jangan lupa mengingatkan mereka untuk berhenti. Pastikan pula anak Anda tetap melakukan aktivitas di lingkungan sosial.

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Ibu & Anak