Islam dan Globalisasi

Islam dan Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah era global/modern dimana dunia ini terasa seperti sebuah kampung kecil. Interaksi antar negara, peradaban dan budaya semakin mudah dilakukan. Proses saling mempengaruhi antar satu budaya dengan budaya yang lain semakin intens dan dengan proses yang cepat, baik budaya itu bersifat positif atau pun negatif. Sehingga pada akhirnya globalisasi menjadi alat untuk saling mempengaruhi antara peradaban, budaya, ideologi bahkan agama.

Proses saling mempengaruhi tersebut menjadikan suatu peradaban, budaya dan agama terkontaminasi dengan unsur-unsur yang lain. Dengan senjata yang bernama media, sebuah ideologi atau budaya bisa memasuki wilayah ideologi dan budaya lain. Hal ini menimbulkan kegoncangan bagi ideologi dan budaya lain itu yang tidak sesuai karateristik sosial kulturalnya. Karena itu, era globalisasi adalah sebuah era bebas hambatan yang menghajatkan persaingan satu sama lain..

Sebagai contoh, masyarakat Indonesia mengalami kegoncangan budaya, tepatnya dekadensi moral karena kuatnya pengaruh westernisasi melanda bangsa Indonesia. Terutama kaum remaja yang telah terpengaruh oleh budaya Barat yang serba bebas. Senjata yang digunakan untuk menyebarkan budayanya adalah media, terutama televisi yang menyajikan tayangan-tayangan pergaulan bebas. Walhasil, budaya bangsa Indonesia saat ini semakin mendekati budaya barat.

Dari sisi ideologi, ia sudah mulai merangsek masuk ke dalam ideologi yang lainnya. Ideologi liberalisme dan kapitalisme sudah hampir menguasai negara-negara di dunia. Sehingga perkonomian dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh negara tertentu. Ideologi-ideologi yang merusak keutuhan agama juga sudah mulai merongrong agama-agama, bahkan Islam sekali pun. Ideologi sekularisme yang meniadakan peran agama dalam negara, Pluralisme yang meyakini bahwa semua agama sama dan benar, dan ideologi liberalisme agama yang mengkaji agama secara liberal (bebas) tanpa kaidah-kaidah yang dilakukan oleh para pakarnya, yaitu ulama.

Dalam menghadapi era globalisasi, Islam tidak pernah menutup diri. Islam adalah sebuah doktrin agama yang menghendaki pemeluknya untuk dapat hidup lebih baik dan lebih maju. Apalagi di era globalisasi, tentu Islam membuka pintu selebar-lebarnya agar pemeluknya dapat hidup dalam kemudahan dan kemodernan.

Menurut Dr. Yusuf al-Qardhawi, ada tiga sikap manusia terhadap globalisasi. Dua sikap sangat ekstrim dan satu sikap moderat. Pertama, mereka yang demikian bergairah dan semangat menyambut datangnya globalisasi. Mereka adalah orang-orang yang berenang di atas gelombangnya yang berinteraksi dengannya tanpa ada batas dan tanpa reserve. Sedangkan pada sisi lain yang terjadi adalah kebalikan yang pertama. Mereka adalah kaum yang melarikan diri dari medan pertempuran. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu pola pemikiran apa yang sedang berkembang. Sikap ini banyak diambil oleh orang-orang yang merasa takut untuk berhadapan dan berinteraksi dengan orang lain. Golongan ini adalah golongan orang-orang yang berpegang teguh dengan semua yang berbau klasik dan tradisional dan sangat anti terhadap segala yang baru.[1]

Sedangkan kelompok moderat, dan ini yang dipilih Qardhawi, adalah kelompok yang mewakili orang-orang yang bersikap terbuka terhadap globalisasi, namun dengan pandangan jeli dan kritis. Satu sikap seorang mukmin dan kuat yang terbuka, yang bangga dengan identitas dirinya, yang sadar akan misinya yang berpegang teguh dengan orisinilitas ajaran agamanya, yang yakin akan keuniversalannya dan yakin akan peradaban umatnya.[2]

Demikianlah Islam, ia tidak kaku dalam menghadapi fenomena globalisasi. Ia juga tidak menerima seluruhnya tanpa adanya reserve. Islam akan menerima globalisasi apabila ia menimbulkan kemaslahatan bagi manusia. Islam memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk maju, makanya Rasulullah SAW mengatakan, “antum a’lamu bi umuri dunyakum”, artinya kalian lebih tahu dalam urusan dunia kalian. Hadits ini mengindikasikan bahwa Rasulullah memberikan kebebasan kepada umatnya untuk berkembang dalam urusan dunia. Pada sisi lain, Islam akan menolak globalisasi jika ia memberikan kerusakan bagi peradaban manusia dan tidak selaras dengan nilai-nilai Islam. Ringkasnya Islam akan mengantisipasi globalisasi dari segi konten, bukan dalam bentuk media/alat globalisasi seperti teknologi komunikasi dan transportasi.
[1] Dr. Yusuf al-Qardhawi, Islam Abad 21, refleksi abad 20 dan agenda masa depan, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000, cet. 1, hal.[2] Ibid.

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Islami

Hakikat Akhlaq Yang Baik Dan Yang Buruk

Hakikat Akhlaq Yang Baik Dan Yang Buruk

Banyak orang telah mencoba berbicara tentang apa hakikatnya akhlaq yang baik itu?! Namun sebenarnya mereka belum sampai kepada hakikatnya. Mereka hanya berbicara tentang buahnya. Itupun belum mencakup semua buahnya. Sebab, setiap orang dari mereka hanya menyebutkan tentang salah satu di antara buah-buahnya. Yaitu yang terlintas dalam pikirannya, atau kebetulan hadir dalam ingatannya. Mereka tidak berupaya sungguh-sungguh untuk menyebutkan batasannya, serta hakikatnya yang meliputi semua buahnya, secara rinci dan menyeluruh.

Misalnya, seperti di nyatakan oleh Al-Hasan: “Akhlaq yang baik adalah menghadapi manusia dengan wajah cerah, memberi bantuan setiap kali diperlukan, serta menjaga diri sendiri dari pada mengganggu orang lain.”

Menurut Al-Washithiy: “Akhlaq yang baik, adalah keadaan seseorang yang tidak mau berkata ataupun di ajak bertengkar oleh siapapun, di sebabkan ma’rifat-nya yang mendalam berkaitan dengan Allah SWT.”

Syah Al-Karmaniy berkata: “Akhlaq yang baik adalah mencegah diri sendiri daripada mengganggu orang lain, serta bersabar dalam melaksanakan kewajiban, betapapun beratnya.”

Sebagian orang berkata: “Seseorang dapat di sebut sebagai berakhlaq baik apabila ia berada dengan manusia namun ia sendiri bagaikan seorang asing di antara meraka.”

Al-Washithy juga pernah berkata: “Berakhlaq baik adalah dengan membuat orang lain merasa puas, baik di kala sedang kesusahan maupun kesenangan.”

Menurut Abu Utsman: “Berakhlaq baik adalah senantiasa merasa ridla (puas dan pasrah sepenuhnya) kepada Allah SWT.”

Sahl At-tusturiy pernah di tanya tentang akhlaq yang baik, lalu ia menjawab: “Sedikitnya, seorang yang berakhlaq baik akan selalu tabah menghadapi kesulitan, tidak mengharapkan balasan atas apa yang di lakukannya, mengasihani orang yang melakukan kedzaliman terhadapnya, dan memohonkan ampunan baginya serta mengasihinnya.”

Di lain kesempatan, ia juga menyatakan bahwa seorang yang baik akhlaqnya tidak sekali-kali akan meragukan Allah SWT mengenai rizqi yang Ia berikan kepadanya. Bahkan ia percaya sepenuhnya kepada Allah SWT, dan senantiasa memenuhi kewajibannya berkenaan dengan rizqi yang telah di jaminkan Allah baginya. Kemudian ia akan selalu taat kepada-Nya dan takkan membangkang terhadap-Nya mengenai apa saja yang berkaitan antara ia dan Allah SWT, dan antar dia dan orang-orang sekitarnya.

Ali r.a. pernah berkata: “Akhlaq yang baik terkandung dalam tiga hal: menjahui segala yang di haramkan, mencari yang halal dan menyenangkan anggota keluarga.”

Husein bin Manshur berkata: “Akhlaq yang baik ialah apabila engkau takkan terpengaruh oleh ketidak ramahan manusia kepadamu, setelah engkau berhasil mendekat ke arah Dia Yang Maha benar.”

Abu Sa’id Al-Kharraz pernah berkata: “Akhlaq yang baik ialah apabila engkau tak lagi mempedulikan sesuatu kecuali Allah SWT.”

Contoh-contoh seperti itu amat banyak. Namun semua itu hanya ungkapan tentang ‘buah-buah akhlaq yang baik’, dan bukannya tentang hakikat atau ‘esensi akhlaq baik’ itu sendiri. Di samping itu, ia tidak pula meliputi semua buahnya. Karenanya, upaya penyikapan tentang hakikat itu lebih utama daripada penyajian ucapan-ucapan manusia yang bermacam-macam.

( Sumber Rujukan: Tahdzib Al-Akhlaq wa Mu’alajat Amradh Al-qulub, karya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali )

By YPI NUR RAHMAN DELTA MAS Posted in Islami